Ngentod Bareng Dengan Guru Baruku
Cerita Binal Dewasa

Ngentod Bareng Dengan Guru Baruku – Seorang Selly dengan jilbab hijau lumut tampak berjalan terburu-buru menuju ruang guru, belahan rok yang cukup sempit memaksa wSelly itu mengayun langkah kecil nan cepat. Namun saat dirinya tiba diruangan yang dituju, disana hanya didapatinya Bu Nita yang sibuk mengoreksi hasil ujian harian para siswa.

“Bu.. apa Pak Robby sudah pulang?”

“Mungkin sudah,” jawab Bu Nita, memandang Cindy dengan wajah penuh curiga, setau Bu Nita hubungan antara Cindy dan Robby memang tak pernah akur, meski sama-sama guru muda, pemikiran Cindy dan Robby selalu bersebrangan. Cindy yang idealis dan Robby yang liberal.

Daftar Agen Judi Terpercaya
“Memangnya ada apa Bu?” lanjut wSelly itu, penasaran.
“Oh… tidak.. hanya ada perlu beberapa hal,” elak Cindy.
“Apa itu tentang pengajuan kenaikan pangkat dan golongan?” tambah Nita yang justru semakin penasaran.
“Bukan.. eh.. iya.. saya pamit duluan ya Bu,” ucap Cindy bergegas pamit.

“Semoga saja SMS itu cuma canda,” ucapnya penuh harap, bergegas menuju parkir, mengacuhkan pandangan satpam sekolah yang menatap liar tubuh semampai dibalut seragam hijau lumut khas PNS, ketat membalut tubuhnya.

Ngentod Bareng Dengan Guru Baruku – Mobil Avanza, Cindy, membelah jalan pinggiran kota lebih cepat dari biasanya. Hatinya masih belum tenang, pikirannya terus terpaku pada SMS yang dikirimkan Robby, padahal lelaki itu hanya meminta tolong untuk membantunya menyusun persyaratan pengajuan pangkat, tapi rasa permusuhan begitu lekat dihatinya.

Jantung Cindy semakin berdebar saat mobilnya memasuki halaman rumah, di sana telah terparkir Ninja 250 warna hijau muda, “tidak salah lagi itu pasti motor Robby,” bisik hati Cindy. Di kursi beranda sudut mata wSelly muda itu menangkap sosok seorang lelaki, asik dengan tablet ditangannya. “Kamu…” ucap Cindy dengan nada suara tak suka.

Baca Juga Kisah Sex Indo Sebelumnya : Ngentot Dengan Tetangga Di Apartement

Robby membalas dengan tersenyum.

“Masuklah, tapi ingat suamiku tidak ada dirumah, jadi setelah semua selesai kamu bisa langsung pulang,” ucap Cindy ketus, meninggalkan lelaki itu diruang tamu.

Beraktifitas seharian disekolah memaksa Cindy untuk mandi, saat memilih baju, wSelly itu dibuat bingung harus mengenakan baju seperti apa, apakah cukup daster rumahan ataukah memilih pakaian yang lebih formal.

“Apa yang ada diotak mu, Rey?!.. Dia adalah musuh bebuyutan mu disekolah,” umpat hati Cindy, melempar gaun ditangannya ke bagian bawah lemari.

Lalu mengambil daster putih tanpa motif. Tapi sayangnya daster dari bahan katun yang lembut itu terlalu ketat dan sukses mencetak liuk tubuhnya dengan sempurna, memamerkan bongkahan payudara yang menggantung menggoda.

Cindy kembali dibuat bingung saat memilih penutup kepala, apakah dirinya tetap harus mengenakan kain itu ataukah tidak, toh ini adalah rumahnya. Namun tak urung tangannya tetap mengambil kain putih dengan motif renda yang membuatnya terlihat semakin anggun, tubuh indah dalam balutan serba putih yang menawan.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 petang dan untuk yang kedua kalinya Cindy menyediakan teh untuk Robby. Sementara lelaki itu masih terlihat serius dengan laptop dan berkas-berkas yang harus disiapkan, sesekali Cindy memberikan arahan.

Tanpa sadar mata Cindy mengamati wajah Robby yang memang menarik. “Sebenarnya cowok ini rajin dan baik, tapi kenapa sering sekali sikapnya membuatku emosi,” gumam Cindy, teringat permusuhannya dilingkungan sekolah.

Pemuda yang memiliki selisih umur empat tahun lebih muda dari dirinya. Sikap keras Cindy sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan berbanding terbalik dengan sikap Robby yang kerap membela murid-murid yang melakukan pelanggaran disiplin.

“Tidak usah terburu-buru, minum dulu teh mu, lagipula diluar sedang hujan,” tegur Cindy yang berniat untuk bersikap lebih ramah.
“Hujan?… Owwhh Shiiit.. Ibuku pasti menungguku untuk makan malam,” umpat Robby.

Cindy tertawa geli mendengar penuturan Robby, “makan malam bersama ibumu? Tapi kamu tidak terlihat seperti seorang anak mami,” celetuk Cindy usil, membuat Robby ikut tertawa, namun tangannya terus bergerak seakan tidak tergoda untuk meladeni ejekan Cindy.

“Bereeesss..” ucap Robby tiba-tiba mengagetkan Cindy yang asik membalas BBM dari suaminya.
“Jadi apa aku harus pulang sekarang?” tanya Robby, wajahnya tersenyum kecut saat mendapati hujan diluar masih terlalu lebat.

“Di garasi ada jas hujan, tapi bila kamu ingin menunggu hujan teduh tidak apa-apa,” tawar Cindy yang yakin motor Robby tidak mungkin menyimpan jas hujan.
“Aku memilih berteduh saja, sambil menemani bu guru cantik yang sedang kesepian, hehehe…”
“Sialan, sebentar lagi suamiku pulang lhoo,”

Sesaat setelah kata itu terucap, Blackberry ditangan Cindy menerima panggilan masuk dari suaminya, tapi sayangnya suaminya justru memberi kabar bahwa dirinya sedikit terlambat untuk pulang, dengan wajah cemberut Cindy menutup panggilan.

“Ada apa, Rey..”
“Gara-gara kamu suamiku terlambat pulang,”

“Lhoo, kenapa gara-gara aku? Hahaha…” Robby tertawa penuh kemenangan, dengan gregetan Cindy melempar bantal sofa. Obrolan kembali berlanjut, namun lebih banyak berkutat pada dinamika kehidupan disekolah dan hal itu cukup sukses mencairkan suasana.

Cindy seakan melihat sosok Robby yang lain, lebih supel, lebih bersahabat dan lebih humoris. Jauh berbeda dari kacamatanya selama ini yang melihat guru cowok itu layaknya perusuh bagi dirinya, sebagai penegak disiplin para siswa.

“Aku heran, kenapa kamu justru mendekati anak-anak seperti Junot dan Darko, kedua anak itu tak lagi dapat diatur dan sudah masuk dalam daftar merah guru BK,” tanya Cindy yang mulai terlihat santai. “Seandainya bukan keponakan dari pemilik yayasan, pasti anak itu sudah dikeluarkan dari sekolah,” sambungnya.

“Yaa, aku tau, tapi petualangan mereka itu seru lho, mulai dari nongkrong di Mangga Besar sampai ngintipin anak cewek dikamar mandi, guru juga ada lho yang mereka intipin,” “Hah? yang benar? gilaaa, itu benar-benar perbuatan amoral,” Cindy sampai meloncat dari duduknya, berpindah ke samping Robby.

“Tapi tunggu, bukankah itu artinya kamu mendukung kenakalan mereka, dan siapa guru yang mereka intip?” tanya Cindy dengan was-was, takut dirinya menjadi korban kenakalan kedua siswa nya.
“Sebanarnya mereka anak yang cerdas dan kreatif, bay
angkan saja, hanya dengan pipa ledeng dan cermin mereka bisa membuat periskop yang biasa digunakan oleh kapal selam,” ucap Robby serius, memutar tubuhnya berhadapan dengan Cindy yang penasaran.

“Awalnya mereka cuma mengintip para siswi tapi bagiku itu tidak menarik, karena itu aku mengajak mereka mengintip di toilet guru, apa kamu tau siapa yang kami intip?”

Wajah Cindy menegang, menggeleng dengan cepat. “Siapa?,,,”

“kami mengintip guru paling cantik disekolah, Ibu Cindy Raihani!”
“Apa? gilaaa kamu Van, kurang ajar,” Cindy terkaget dan langsung menyerang Robby dengan bantal sofa.
“ampuun Reeeey, Hahahaa,,”
“Sebenarnya kamu ini guru atau bukan sih? Memberi contoh mesum ke murid-murid, besok aku akan melaporkan mu ke kepala sekolah,” sembur Cindy penuh emosi.

Robby berusaha menahan serangan dengan mencekal lengan Cindy.

“Hahahaa, aku bohong koq, aku justru mengerjai mereka, aku tau yang sedang berada di toilet adalah Pak Tigor dan apa kamu tau efeknya? Mereka langsung shock melihat batang Pak Tigor yang menyeramkan, Hahaha,” Cindy akhirnya ikut tertawa, tanpa sadar jika lengannya masih digenggam oleh Robby.

“Tu kan, kamu itu sebenarnya lebih cantik jika sedang tertawa, jadi jangan disembunyikan dibalik wajah galakmu,” ucap Robby yang menikmati tawa renyah Cindy yang memamerkan gigi gingsulnya. Seketika Cindy terdiam, wajahnya semakin malu saat menyadari tangan Robby masih menggenggam kedua tangannya.

Tapi tidak berselang lama bentakan dari bibir tipisnya kembali terdengar, “Hey!.. Kalo punya mata dijaga ya,” umpat Cindy akibat jelajah mata Robby yang menyatroni gundukan payudara dibalik gaun ketat yang tak tertutup oleh jilbab, Cindy beranjak dan duduk menjauh, merapikan jilbabnya.

“Punyamu besar juga ya,” balas Robby, tak peduli akan peringatan Cindy yang menjadi semakin kesal lalu kembali melempar bantalan sofa. “Ga usah sok kagum gitu, lagian kamu pasti sudah sering mengintip payudara siswi disekolah?,,”

“Tapi punyamu spesial, milik seorang guru tercantik disekolah,”

“Sialan..” dengus Cindy merapikan jilbabnya, tapi sudut bibirnya justru tersenyum, karena tak ada wSelly yang tidak suka bila dipuji. Wajah Cindy memerah , kalimat Robby begitu vulgar seakan itu adalah hal yang biasa.

“Rey… liat dong,”

“Heh? Kamu mau liat payudaraku , gilaa… Benda ini sepenuhnya menjadi hak milik suamiku,” WSelly itu memeletkan lidahnya, tanpa sadar mulai terbawa sifat Robby yang cuek.
“Ayo dooong, penasaran banget nih,”
“Nanti, kalo aku masuk kamar mandi intipin aja pake piroskop ciptaan kalian itu, hahaha..” Cindy tertawa terpingkal menutup wajahnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya.

“Yaaa, paling ngga jangan ditutupin jilbab keq,” sungut Robby, keqi atas ulah Cindy yang menertawakannya.
“Hihihi… Liat aja ya, jangan dipegang,” Ucap guru cantik itu dengan mata tertuju ke TV, lalu mengikat jilbabnya kebelakang.
“Kurang..”

“Apalagi? Bugil?” matanya melotot seolah-olah sedang marah, tetapi jantungnya justru berdebar kencang, menantang hatinya sejauh mana keberanian dirinya.
“satu kancing aja,”
“Dasar guru mesum,” Cindy lagi-lagi memeletkan lidahnya lalu kembali menolehkan wajahnya ke TV, namun tangannya bergerak melepas kancing atas.

Tapi tidak berhenti sampai disitu, karena tangannya terus bergerak melepas kancing kedua lalu menyibak kedua sisinya hingga semakin terbuka, membiarkan bongkahan berbalut bra itu menjadi santapan penasaran mata Robby. Entah apa yang membuat Cindy seberani itu, untuk pertama kalinya dengan sengaja menggoda lelaki lain dengan tubuh nya.

“Punyamu pasti lebih kencang dibanding milik Selly,” sambung Robby, matanya terus terpaku ke dada Cindy sambil mengusap-usap dagu yang tumbuhi jambang tipis, seolah menerawang seberapa besar daging empuk yang dimiliki wSelly cantik itu. Tapi kata-kata Robby justru membuat Cindy kaget, bingung sekaligus penasaran. “Hhmmm.. Ada hubungan apa antara dirimu dan Bu Nita?”

“Tidak ada, aku hanya menemani wSelly itu, menemani malam-malamnya yang sepi,”
“Gilaaa.. Apa kamu… eeeenghhh,,,”

“Maksudmu aku selingkuhan Bu Selly kan? Hahaha…” Robby memotong kalimat Cindy setelah tau maksud kalimat yang sulit diucapkan wSelly itu. “Bisa dikatakan seperti itu, hehehe.. Tapi kami sudah mengakhirinya tepat seminggu yang lalu,”

“Kenapa?” sambar Cindy yang tiba-tiba penasaran atas isu skandal yang memang telah menyebar dikalangan para guru mesum. Robby menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya. “Suaminya curiga dengan hubungan kami, meski Selly menolak untuk mengakhiri aku tetap harus mengambil keputusan itu, resikonya terlalu besar,”

“Apa kamu mencintai Bu Selly?”

Robby tidak langsung menjawab tapi justru mengambil rokok dari kantongnya, setelah tiga jam lebih menahan diri untuk tidak menghisap lintingan tembakau dikantongnya, akhirnya lelaki itu meminta izin, “Boleh aku merokok?”

“Silahkan..” jawab Cindy cepat.

“Aku tidak tau pasti, Selly wSelly yang cantik, tapi dia bukan wSelly yang kuidamkan,” beber lelaki itu setelah menghembuskan asap pekat dari bibirnya. Tapi wajah wSelly didepannya masih menunjukkan rasa penasaran, “lalu apa saja yang sudah terjadi antara dirimu dan Selly?” cecarnya.

“Hahahaha.. Maksudmu apa saja yang sudah kami lakukan?”

Wajah Cindy memerah karena malu, Robby dengan telak membongkar kekakuannya sebagai seorang wSelly dewasa. “Selly adalah wSelly bersuami, artinya kau tidak berhak untuk menjamah tubuhnya,” ucap Cindy berusaha membela keluguan berfikirnya.

Robby tersenyum kecut, mengakui kesalahannya, “Tak terhitung lagi berapa kali kami melakukannya, mulai dari dirumahku, dirumahnya, bahkan kami pernah melakukan diruang lab kimia, desah suaranya sebagai wSelly yang kesepian benar-benar menggoda diriku, rindu pada saat-saat aku menghamburkan spermaku diwajah cantiknya.”

Seketika wajah Cindy terasa panas membayangkan petualangan, Selly, “Kenapa kamu tidak menikah saja?” tanya Cindy berusaha menetralkan debar jantungnya. “Belum ada yang cocok,” jawab Robby dengan simpel, membuat Cindy menggeleng-gelengkan kepala, wSelly itu mengambil teh dimeja dan meminumnya.
“Rey.. selingkuhan sama aku yuk..”

Brruuuuuffftttt…
Bibir tipis Cindy seketika menghambur air teh dimulutnya.

“Dasar guru mesum,” umpat Cindy membuang wajahnya, yang menampilkan ekspresi tak terbaca, kejendela yang masih mempertontonkan rinai hujan yang justru turun semakin deras.

“Aku masak dulu, lapar nih,” ucap Cindy, beranjak dari sofa berusaha menghindar dari tatapan Robby yang begitu serius, jantungnya berdegub keras masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Robby.

“Rey…” Panggilan Robby menghentikan langkah wSelly itu.
“Kenapa wajahmu jadi pucat begitu, tidak perlu takut aku cuma bercanda koq,” ujar lelaki itu sambil terkekeh.
“Siaaal, ni cowok sukses mengerjai aku,” umpat hati Cindy.

“Aku tau koq, kamu tidak mungkin memiliki nyali untuk menggoda guru super galak seperti aku,” ucapnya sambil memeletkan lidah. Diam-diam bibirnya tersenyum saat Robby mengikuti ke dapur. Hatinya mencoba berapologi, setidaknya lelaki itu dapat menemaninya saat memasak.

Cindy dengan bangga memamerkan keahliannya sebagai seorang wSelly, tangannya bergerak cepat menyiapkan dan memotong bumbu yang diperlukan, sementara Robby duduk dikursi meja makan dan kembali berceloteh tentang kenakalan dan kegenitan para siswi disekolah yang sering menggoda dirinya sebagai guru mesum jomblo tampan.

“Awas aja kalo kamu sampai berani menyentuh siswi disekolah,” Cindy mengingatkan Robby sambil mengacungkan pisau ditangan, dan itu membuat Robby tertawa terpingkal.
“Ckckckck, mahir juga tangan mu Rey,” Robby mengkomentari kecepatan tangan Cindy saat memotong bawang bombay.
“Hahaha… ayo sini aku ajarin..” tawar Cindy tanpa menghentikan aksinya.

Tapi Cindy terkejut ketika Robby memeluknya dari belakang, bukan.. cowok itu bukan memeluk, karena tangannya mengambil alih pisau dan bawang yang ada ditangannya. “Ajari aku ya..” bisik Robby lembut tepat ditelinganya.

Kepala wSelly itu mengangguk, tersenyum tersipu. Tangannya terlihat ragu saat menyentuh dan menggenggam tangan Robby yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Perlahan pisau bergerak membelah daging bawang.

“tangan mu terlalu kaku, Hahahaa,”
“Ya maaf, tanganku memang tidak terlatih melakukan ini, tapi sangat terlatih untuk pekerjaan lainnya.”
“Oh ya? Contohnya seperti apa? Membuat periskop untuk mengintip siswi dikamar mandi? Hahaha,,,”

“Bukan, tapi tanganku sangat terampil untuk memanjakan wSelly cantik seperti mu,” ucap lelaki itu, melepaskan pisau dan bawang, beralih mengusap perut Cindy yang datar dan perlahan merambat menuju payudara yang membusung.

“Hahaha, tidaak tidaaak, aku bukan selingkuhanmu, ingat itu,” tolak Cindy berusaha menahan tangan Robby.
“Rey, jika begitu jadilah teman yang mesra untuk diriku, dan biarkan temanmu ini sesaat mengangumi tubuhmu, bila tanganku terlalu nakal kamu bisa menghentikanku dengan pisau itu, Deal?…”

Tubuh Cindy gemetar, lalu mengangguk dengan pelan, “Ya, Deaaal.” ucap bibir tipisnya, serak. Cindy kembali meraih pisau dan bawang dan membiarkan tangan kekar Robby dengan jari-jarinya yang panjang menggenggam payudara nya secara utuh. Memberikan remasan yang lembut, memainkan sepasang bongkahan daging dengan gemas.

Mata Cindy terpejam, kepalanya terangkat seiring cumbuan Robby yang perlahan merangsek keleher yang masih terbalut jilbab. Romansa yang ditawarkan Robby dengan cepat mengambil alih kewarasan Cindy.

“Owwhhhh,” bibir Cindy mendesah, kakinya seakan kehilangan tenaga saat jari-jari Robby berhasil menemukan puting payudara yang mengeras.
“Rivaaaan,” ucap wSelly itu sesaat sebelum bibirnya menyambut lumatan bibir yang panas.

Membiarkan lelaki itu menikmati dan bercanda dengan lidahnya, menari dan membelit lidahnya yang masih berusaha menghindar. “Eeeemmhhh…” wajahnya terkaget, Robby dalam hisapan yang lembut membuat lidah nya berpindah masuk menjelajah mulut lelaki itu dan merasakan kehangatan yang ditawarkan.

Menggelinjang saat lelaki itu menyeruput ludah dari lidahnya yang menari. Jika Cindy mengira permainan ini sebatas permainan pertautan lidah, maka wSelly itu salah besar, karena jemari dari lelaki yang kini memeluknya penuh hasrat itu mulai menyelusup kebalik kancingnya.

“Boleh?”

WSelly berbalut jilbab itu tak berani menjawab, hanya memejamkan matanya dan menunggu keberanian silelaki untuk menikmati tubuhnya. Begitu pun saat tangan Robby berusaha menarik keluar bongkahan daging padat yang membusung menantang dari bra yang membekap.

“Oooowwwhh, eemmppphhh,” tubuh Cindy mengejang seketika, tangan lentiknya tak mampu mengusir tangan Robby, hanya mencengkram agar jemari lelaki itu tidak bergerak terlalu lincah memelintir puting mungilnya.

“Rey.. Kenapa kamu bisa sepasrah ini?.. Benarkah kamu menyukai lelaki ini?.. Bukan.. Ini bukan sekedar pertemanan Rey.. Meski kau tidak menyadari aku bisa merasakan bibit rasa suka dihatimu akan lelaki itu, Rey…” hati kecil Cindy mencoba menyadarkan. Tapi wSelly itu justru berusaha memungkiri penghianatan cinta yang dilakoninya, berusaha mengenyahkan bisikan hati dengan memejamkan matanya lebih erat.

Wajahnya mendongak ke langit rumah, berusaha lari dari batinnya yang berteriak memberi peringatan. Pasrah menunggu dengan hati berdebar saat tangan Robby mulai mengangkat dasternya keatas dan dengan pasti menyelinap kebalik kain kecil, menyelipkan jari tengah kecelah kemaluan yang mulai basah.

“Ooowwwhhhhhhh,” bibirnya mendesah panjang, berusaha membuka kaki lebih lebar seakan membebaskan jari-jari Robby bermain dengan klitorisnya.

Kurihiiiing…
Kurihiiiing…

Dering HP mengagetkan keduanya, membuat pergumulan birahi itu terlepas. Kesadaran Cindy mengambil alih seketika, dirinya semakin shock melihat nama yang tertera dilayar HP, ‘Mas Anggara’.

“Hallo mas, halloo,,” sambut Cindy diantara usahanya mengkondisikan jantung yang berdegup kencang.
“Mas sedang dimana, kenapa belum pulang?” ucap Cindy kalut dengan rasa takut dan bersalah yang begitu besar, seolah suaminya kini berdiri tepat didepannya.
“Mas masih dirumah sakit, mungkin tidak bisa pulang malam ini,” jawab suara besar diujung telpon.
“Iya.. Iya tidak apa-apa, Mas kerja saja yang tenang,”

Setelah mengucap salam, sambungan telpon dimatikan. Cindy berdiri bersandar dimeja, menghela nafas panjang lalu meneguk liur untuk membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.

“Robby, terimakasih untuk semuanya, tapi kau bisa pulang sekarang,”
“Tidak Rey, kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita mulai,”

“Apa maksudmu?… Tidak.. Aku bukan seperti Selly yang kesepian, aku tidak memiliki masalah apapun dengan suamiku, keluarga yang kumiliki saat ini adalah keluarga yang memang kuidamkan…” wajah Cindy menjadi pucat saat Robby mendekat menempel ketubuhnya, mengangkat dasternya lebih tinggi, memeluk dan meremas pantat yang padat berisi.

“Robby, ingat!.. Kamu seorang guru, bukan pemerkosa..” didorongnya tubuh lelaki itu, tapi dekapan tangan Robby terlalu erat.
“Yaa.. Aku memang bukan pemerkosa, aku hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah kita mulai,”
“Gila kamu Robby, aku adalah istri yang setia, tidak seperti wSelly-wSelly yang pernah kau tiduri ”
“Ohh ya?,,” Robby tersenyum sambil menurunkan celananya dan memamerkan batang yang telah mengeras, batang besar yang membuat Cindy terhenyak.

Tiba-tiba dengan kasar Robby mencengkram tubuh Cindy dan mendudukkan wSelly itu diatas meja, dengan gerakan yang cepat menyibak celana dalam Cindy, batang besar itu telah berada didepan bibir senggama Cindy.

“Jangan Rivaaan, aku bisa berbuat nekat,” Cindy mulai menangis ketakutan, meraih garpu yang ada disampingnya, mengancam Robby.
“Kenapa mengambil garpu, bukankah disitu ada pisau?” Robby terkekeh, wajah yang tadi dihias senyum menghanyutkan kini berubah begitu menakutkan.
“Aaaaaaaaaaaggghh…” Robby berteriak kesakitan saat Cindy menusukkan garpu ke lengan lelaki itu.

Lelaki itu menepis tangan Cindy, merebut garpu dan melemparnya jauh, darah terlihat merembes dikemeja lelaki itu. “Bila ingin mengakhiri ini seharusnya kau tusuk tepat di ulu hatiku,” ucapnya dengan wajah menyeringai sekaligus menahan sakit.

“Tidaaak Rivaaaan, hentikaaan,” Cindy berhasil berontak mendorong tubuh besar Robby lalu berlari kearah kamar, tapi belum sempat wSelly itu menutup kamar Robby menahan dengan tangannya.

“Aaaaagghh…” Robby mengerang kesakitan akibat tangannya yang terjepit daun pintu, lalu dengan kasar mendorong hingga membuat Cindy terjengkal.
“Dengar Rey.. Sudah lama aku menyukai mu, dan aku berusaha menarik perhatianmu dengan menentang setiap kebijakan mu,”

Dengan kasar Robby mendorong wSelly itu kelantai dan melucuti pakaiannya, Cindy berteriak meminta tolong sembari mempertahankan kain yang tersisa, tapi derasnya hujan mengubur usahanya. Lelaki itu berdiri mengangkangi tubuh Cindy yang terbaring tak berdaya, memamerkan batang besar yang mengeras sempurna, kejantanan yang jelas lebih besar dari milik suaminya.

WSelly itu menangis saat Robby dengan kasar menepis tangan yang masih berusaha menutupi selangkangan yang tak lagi dilindungi kain. “Cuu.. Cukup Robby, sadarlaaah..” sambil terus menangis Cindy berusaha menyadarkan, tapi usahanya sia-sia, mata lelaki itu terhiptonis pada lipatan vagina dengan rambut kemaluan yang terawat rapi.

Dengan kekuatan yang tersisa Cindy berusaha merapatkan kedua pahanya, namun terlambat, Robby telah lebih dulu menempatkan tubuhnya diantara paha sekal itu dan bersiap menghujamkan kejantanannya untuk mengecap suguhan nikmat dari wSelly secantik Cindy.

“Ooowwhhh… Vagina mu lebih sempit dibanding milik Selly,” desah Robby seiring kejantanan yang menyelusup masuk ke liang si betina.

“Oohhkk.. Oohhkk..” bibir Cindy mengerang menerima hujaman yang dilakukan dengan kasar, semakin keras batang besar itu menghujam semakin kuat pula jari-jari Cindy mencakar tangan Robby, air matanya tak henti mengalir.

Tubuhnya terhentak bergerak tak beraturan, Robby menyetubuhinya dengan sangat kasar. Wajah lelaki itu menyeringai saat melipat kedua paha Cindy keatas, memberi suguhan indah dari batang besar yang bergerak cepat menghujam celah sempit vagina Cindy.

“Sayang, aku bisa merasakan lorong vaginamu semakin basah, ternyata kamu juga menikmati pemerkosaan ini, hehehe”

Plak…

Pertanyaan Robby berbuah tamparan dari tangan Cindy, tapi lelaki itu justru tertawa terpingkal, lidahnya menjilati jari-jari kaki Cindy yang terangkat keatas dengan pinggul yang terus bergerak menghujamkan batang pusakanya. Puas bermain dengan kaki Cindy, tangan lelaki itu bergerak melepas bra yang masih tersisa.

“Ckckckck… Sempurna, sejak dulu aku sudah yakin payudaramu lebih kencang dari milik Selly,”

Tubuh Cindy melengkung saat putingnya dihisap lelaki itu dengan kuat. “Oooooouugghh..”

“Pasti Selly malam ini tidak bisa tidur karena menunggu batang kejantanan yang kini sedang kau nikmati, Oowwhhh kecantikan, keindahan tubuh dan nikmatnya vaginamu benar-benar membuatku lupa pada beringasnya permainan Selly,” ucap Robby, membuat Cindy kembali melayangkan tangannya kewajah lelaki itu.

“Bajingan kamu, Van..” umpat wSelly itu, tapi tak berselang lama bibirnya justru mendesah saat lidah Robby bermain ditelinganya. “Oooowwwhhhhh….”
“Hehehe…akuilah, jika kamu juga menikmati pemerkosaan ini, rasakanlah besarnya penisku divagina sempit mu ini,”

Mata wSelly itu terpejam, air matanya masih mengalir dengan suara terisak ditingkahi lenguhan yang sesekali keluar tanpa sadar. Hatinya berkecamuk, sulit memang memungkiri kenikmatan yang tengah dirasakan seluruh inderanya.

“Reeeey… Sadarlah, kamu wSelly baik-baik, seorang istri yang setia, setidaknya tutuplah mulut nakal mu itu,” teriak hatinya mencoba mengingatkan, membuat airmata Cindy semakin deras mengalir.

Yaa.. meski hatinya berontak, tapi tubuhnya telah berkhianat, pinggulnya tanpa diminta bergerak menyambut hentakan batang yang menggedor dinding rahim. Robby tersenyum penuh kemenangan.

“Berbaliklah, sayang,” pintanya.

Tubuh Cindy bergerak lemah membelakangi Robby, pasrah saat lelaki itu menarik pantatnya menungging lebih tinggi, menawarkan kenikmatan dari liang senggama yang semakin basah. Jari-jari lentiknya mencengkram sprei saat lelaki dibelakang tubuhnya menggigiti bongkahan pantatnya dengan gemas.

“Oooowwwhhhh… Eeeeeenghhh..” pantat indah yang membulat sempurna itu terangkat semakin tinggi ketika lidah yang panas memberikan sapuan panjang dari bibir vagina hingga keliang anal.

Rasa takut dan birahi tak lagi mampu dikenali, matanya yang sendu mencoba mengintip pejantan yang membenamkan wajah tampannya dibelahan pantat yang bergetar menikmati permainan lidah yang lincah menari, menggelitik liang vagina dan anusnya, suatu sensasi kenikmatan yang tak pernah diberikan oleh suaminya.

Isak tangis bercampur dengan rintihan. Hati yang berontak namun tubuhnya tak mampu berdusta atas lenguhan panjang yang mengalun saat batang besar Robby kembali memasuki tubuhnya, menghantam bongkahan pantatnya dengan bibir menggeram penuh nafsu.

Begitupun saat Robby meminta Cindy untuk menaiki tubuhnya, meski airmatanya jatuh menetes diatas wajah sipejantan tapi pinggul wSelly itu bergerak luwes dengan indahnya menikmati batang besar yang dipaksa untuk masuk lebih dalam.

“Aaaawwhhhh Rey… Boleh aku menghamilimu?” ucap Robby saat posisinya kembali berada diatas tubuh Cindy, menunggangi tubuh indah yang baru saja meregang orgasme.

WSelly itu membuang wajahnya, bibirnya terkatup rapat tak berani menjawab hanya gerakan kepala yang menggeleng menolak, matanya begitu takut beradu pandang dengan mata Robby yang penuh birahi.

Batang besar Robby bergerak cepat, orgasme yang diraih siwSelly membuat lorong senggamanya menjadi sangat basah. Hentakan pinggul lelaki itu begitu cepat dan kuat seakan ingin membobol dinding rahim, memaksa Cindy berpegangan pada besi ranjang penikahannya untuk meredam kenikmatan yang didustakan.

“Reeeeey.. Boleh aku menghamilimuuu?.. Aaaagghhh, cepaaaaat jawaaaaaaaab,” teriak Robby yang menggerakkan pinggulnya semakin cepat.

Cindy menatap Robby dengan kepala yang menggeleng. “Jangaaan.. kumohooon jangaaaan… Robby tersenyum menyeringai “Kamu yakin? Tidak ingin merasakan sensasi bagaimana sperma lelaki lain menghambur dirahim mu?”

Plaaak..

Cindy kembali menampar wajah Robby untuk yang kesekian kalinya, tapi kali ini jauh lebih keras. WSelly menjerit terisak, tapi kaki jenjangnya justru bergerak melingkari pinggul silelaki, tangannya memeluk erat seakan ingin menyatukan dua tubuh.

Tangis Cindy semakin menjadi, menangisi kekalahannya. Tangannya menyusuri punggung Robby yang berkeringat lalu meremas pantat yang berotot seakan mendukung gerakan Robby yang menghentak batang semakin dalam.

“Kamu jahaaaaat Rivaaaan.. jahaaaaat..” teriak Cindy seiring lenguh kenikmatan dari bibir silelaki.

Menghambur bermili-mili sperma dilorong senggama, menghantar ribuan benih kerahim siwSelly yang mengangkat pinggulnya menyambut kepuasan silelaki dengan lenguh orgasme yang kembali menyapa, tubuh keduanya mengejat, menggelinjang, menikmati suguhan puncak dari sebuah senggama tabu.

“Kenapa kau mempermainkan aku seperti ini,” isak Cindy dengan nafas memburu, tangannya masih meremasi pantat berotot Robby yang sesekali mengejat untuk menghantar sperma yang tersisa kerahim si wSelly.

“Karena aku mencintaimu,” bisik lembut si penjantan ditelinga betina yang membuat pelukannya semakin erat, membiarkan tubuh besar itu berlama-lama diatas tubuh indah yang terbaring pasrah. Membisu dalam pikiran masing-masing.

“Apa kamu bersedia menjadi teman selingkuhku?”

Cindy menggeleng dengan cepat, “Aku tidak berani, Robby, Ooooowwhhhhhh..” wSelly itu melepaskan pagutan kakinya dan mengangkang lebar, membiarkan silelaki kembali menggerakkan pingulnya dan memamerkan kehebatan kejantanannya dicelah sempit vagina Cindy.

“Tapi bagaimana bila aku memaksa?..”

“Itu tidak mungkin Oooowwhhh… Aku sudah bersuami dan memiliki anak, aaaahhhhhh…” Cindy menggelengkan kepala, berusaha kukuh atas pendirian, meski pinggul indahnya bergerak liar, tak lagi malu untuk menyambut setiap hentakan yang menghantar batang penis kedalam tubuhnya.

Cindy tak ingin berdebat, tangannya menjambak rambut Robby saat bibir lelaki itu kembali berusaha merayu, membekap wajah Robby pada kebongkahan payudara dengan puting yang mengeras.

“Kamu jahat, Van.. Tak seharusnya aku membiarkan lelaki lain menikmati tubuhku.. Ooowwwhh.. Ooowwwhhh…”

Setelahnya tak ada lagi kalimat lagi yang keluar selain desahan dan lenguhan dan deru nafas yang memburu. Hingga akhirnya bibir Robby bersuara serak memanggil nama si wSelly.

“Reeeeey… Boleeeehkaaan?”

Cindy menatap sendu wajah birahi Robby, dengan kesadaran yang penuh wSelly itu mengangguk lalu merentang kedua tangan dan kakinya, memberi izin kepada silelaki untuk kembali menghambur sperma kedalam rahimnya.

“Reeeey..” panggil lelaki itu kembali, membuat siwSelly bingung, sementara tubuhnya telah pasrah menjadi pelampiasan dari puncak birahi Robby.

Dengan wajah memelas tangan Robby bergerak mengusap wajah Cindy, telunjuknya membelah bibir tipis siwSelly.

“Dasar guru mesum, ” ucap Cindy sambil menampar pipi Robby tapi kali ini dengan lembut,
“kamu menang banyak hari ini, Van..” ucapnya lirih dengan mata sembap oleh air mata.
“Boleeeh?..”

Cindy memalingkan wajahnya, lalu mengangguk ragu. Robby bangkit mencabut batangnya lalu mengangkangi wajah guru cantik itu. Sudut mata Cindy menangkap wajah tampan silelaki yang menggeram sambil memainkan batang besar tepat didepan wajah nya.

Jemari lentiknya gemetar saat mengambil alih batang besar itu dari tangan Robby. Memberanikan diri untuk menatap lelaki yang mengangkangi wajahnya, kepasrahan wajah seorang wSelly atas lelaki yang menikmati tualang birahi atas tubuhnya.

“Aaaaaaaagghhh.. Aaaaagghhh.. Reeeeey..” wajah Robby memucat seiring sperma yang menghambur kewajah cantik yang menyambut dengan mata menatap sendu. “Aaaaaagghhhh.. Sayaaaaaang..”

Tak pernah sekalipun Cindy menyaksikan seorang pejantan yang begitu histeris mendapatkan orgasmenya, dan tak pernah sekalipun Cindy membiarkan seorang pejantan menghamburkan sperma diwajah cantiknya. Dengan ragu Cindy membuka bibirnya, membiarkan tetesan sperma menyapa lidahnya. Batang itu terus berkedut saat jari lentik Cindy yang gemetar menuntun kedalam mulutnya.

Menikmati keterkejutan wajah Robby atas keberaniannya. Bibirnya bergerak lembut menghisap batang Robby, mempersilahkan lelaki itu mengosongkan benih birahi didalam bibir tipisnya.

“Ooooooowwwhhhhh.. Reeeeeeeey…” Robby mengejat, menyambut tawaran Cindy dengan beberapa semburan yang tersisa.
“Cepatlah pulang.. Aku tidak ingin suamiku datang dan mendapati dirimu masih disini,” pinta Cindy setelah Robby sudah mengenakan kembali seluruh pakaiannya.
“Masih belum puas?.. dasar guru mesum,” ucapnya ketus saat Robby memeluk dari belakang.
“aku bukanlah selingkuhan mu, catat itu,” Cindy menepis tangan Robby.

“Yaa.. Aku akan mencatatnya disini, disini, dan disini..” jawab Robby sambil menunjuk bibir tipis Cindy, lalu beralih meremas payudara yang membusung dan berakhir dengan remasan digundukan vagina.

“Dasar gila ni cowok,” umpat hati Cindy, yang kesal atas ulah Robby tetap terlihat cuek setelah apa yang terjadi.

Cindy menatap punggung Robby saat lelaki itu melangkah keluar, hujan masih mengguyur bumi Jakarta dengan derasnya, dibibir pintu lelaki itu berhenti dan membalikkan tubuhnya, menampilkan wajah serius.

“Maaf Rey, sungguh ini diluar dugaanku, semua tidak lepas dari khayalku akan dirimu, tapi aku memang salah karena mencintai wSelly bersuami, Love you Rey..” ucap Robby lalu melangkah keluar kepelukan hujan.

“Rivaaan.. Love u too,” teriak Cindy dengan suara serak, membuat langkah Robby terhenti
“Tapi maaf aku tidak bisa jadi selingkuhanmu.” lanjutnya.

“Mamaaaaaa, Elminaaaa pulaaaaang,” teriak seorang bocah dengan ceria, coba mengagetkan wSelly yang sibuk merapikan tempat tidur yang berantakan, gadis kecil itu langsung menghambur memeluk tubuh Cindy, ibunya.

Usaha gadis itu cukup berhasil, Cindy sama sekali tidak menduga, Ermina, putri kecilnya yang beberapa hari menginap ditempat kakeknya dijemput oleh suaminya.

“Ini buat mama dari Elmina,” ucapnya cadel, menyerahkan balon gas berbentuk amor yang melayang pada seutas tali. “Elmina kangen mamaa, selamat valentine ya, ma, Semoga mama semakin cantik dan sehat selalu..”

Wajah mungil itu tersenyum ceria, senyum yang begitu tulus akan kerinduan sosok seorang ibu. Cindy tak lagi mampu membendung air mata, menatap mata bening tanpa dosa yang menunjukkan kasih sayang seorang anak. Sementara dibelakang gadis itu berdiri suaminya, Anggara, sambil menggenggam balon yang sama.

“Selamat valentine, sayang,” ucap Anggara, tersenyum dengan gayanya yang khas, senyum lembut yang justru mencabik-cabik hati Cindy.

Seketika segala sumpah serapah tertumpah dari hatinya, atas ketidaksetiaannya sebagai seorang istri, atas ketidak becusannya menyandang sebutan seorang ibu.

“Maafin Mama, sayang,” ucap Cindy tanpa suara, memeluk erat tubuh mungil Ermina, terisak dengan tubuh gemetar. “Maafin mama, Pah,”

Tengah malam, Cindy berdiri dibalik jendela, menatap gulita dengan gundah. Suaminya dan Ermina telah terlelap.

PING!…

Tanpa hasrat wSelly itu membuka BBM yang ternyata menampilkan pesan dari Robby.

“Besok pukul 12 aku tunggu di lab kimia, ”

Jemari kiri Cindy erat menggenggam tangan suaminya yang tengah pulas tertidur, sementara tangan kanannya menulis pesan dengan gemetar. “Ya, aku akan kesitu,”

Sekretarisku Yang Gila Ngentod
Cerita Binal Dewasa
Sekretarisku Yang Gila Ngentod

Sekretarisku Yang Gila Ngentod – Pagi itu pada waktu jam masuk kantor aq berpapasan dgnnya di pintu masuk, seperti biasa kita saling tersenyum dan mengucapkan selamat pagi. Ah lucu juga kita yg sudah kenal beberapa tahun masih melaqukan kebiasaan seperti itu, padahal untuk hitungan waktu selama tiga tahun kita harus …

Ngentod Dengan Perawat Di Rumah Sakit
Cerita Binal Dewasa
Ngentod Dengan Perawat Di Rumah Sakit

Ngentod Dengan Perawat Di Rumah Sakit – Rumah yang asri” gumamku dalam hati. Halaman yang hijau, penuh tanaman dan bunga yang segar dikombinasikan dengan kolam ikan berbentuk oval. Aku mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali sampai pintu dibukakan. Sesosok tubuh semampai berbaju serba putih menyambutku dengan senyum manisnya. “Pak Rafi …

Kisah Sex Pelayan Toko Mengajak Berhubungan Seks
Cerita Binal Dewasa
Kisah Sex Pelayan Toko Mengajak Berhubungan Seks

Kisah Sex Pelayan Toko Mengajak Berhubungan Seks – ini bеrmula dаri kеiѕеngаn ku уаng ѕеlаlu mеnсоbа hаl-hаl bаru. Mаlаm itu hаri ѕеnin tеmаnku уаng bеrnаmа Budi dаtаng kе tеmраt kоѕt ku dаn diа bеrсеritа mеngеnаi реtuаlаngаnnуа mеnсаri сеwеk реnjаgа tоkо. Kаrеnа аku mеruраkаn tiре оrаng уаng nggаk mudаh реrсауа dеngаn …

Agen Judi Deposit 50 Ribu